Month: August 2020

SEJARAH HAND SANITIZER, PEMBERSIH TANGAN BERBASIS ALKOHOL YANG DICARI BANYAK ORANG

SEJARAH HAND SANITIZER, PEMBERSIH TANGAN BERBASIS ALKOHOL YANG DICARI BANYAK ORANG

MORITA Indonesia – Masih bicara seputar hand sanitizer, pembersih tangan beralkohol ini sudah menjadi kebutuhan utama setiap orang saat ini. Ditengah pandemi Covid-19 tak heran setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan hand sanitizer.

Namun, kira-kira sobat semua tahu gak sih.. asal mula dan bagaimana kemunculan hand sanitizer  ditengah masyarakat? Nah, artikel kali ini akan membahas bagaimana sejarah atau asal mula adanya hand sanitizer nih sobat.

Dilansir dari CNBC, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menjelaskan bahwa jika tidak tersedia air mengalir dan sabun, gunakanlah hand sanitizer setidaknya yang mengandung 60% alcohol.

Beberapa Versi Sejarah Hand Sanitizer

Dilansir dari CNBC (25/8) Alkohol menjadi bahan utama dari hand sanitizer. Sebagian besar hand sanitizer mengandung 60-95% alcohol yang dicampur dengan air dan gel.

Alkohol sendiri sudah digunakan sebagai antiseptic sejak  setidaknya akhir 1800-an.

Sedangkan asal muasal hand sanitizer masih diperdebatkan.

Versi pertama oleh Lupe Hernandez, mahasiswa keperawatan di Bakersfield, California. Pada tahun 1966 dia telah menemukan hand sanitizer, setelah menggabungkan alkohol dan gel untuk digunakan oleh dokter dalam situasi di mana mereka tidak punya waktu untuk mengakses sabun dan air hangat sebelum merawat pasien.

Baca juga: PENTINGNYA PERIZINAN RESMI PADA PRODUK HAND SANITIZER

Namun, penyelidikan baru-baru ini oleh sejarawan Smithsonian Institution, Joyce Bedi, tidak dapat menemukan jejak apa pun dari Hernandez, atau bukti apa pun dari paten AS untuk pembersih tangan dari tahun 1960-an.

Selain itu  ‘sterillium’, yang diklaim oleh perusahaan Jerman Hartmann sebagai “disinfektan tangan berbasis alkohol pertama di dunia” saat diluncurkan ke Eropa pada tahun 1965, dibuat dengan gliserin dan 75% alkohol.

Masih ditemukan versi lainnya, hand sanitizer dilakukan oleh pasangan suami istri, Goldie dan Jerry Lippman pada tahun 1946 yang digunakan untuk pekerja pabrik karet sebagai ganti bahan kimia keras untuk menghilangkan grafit dan karbon hitam dari tangan mereka.

Produknya disebut Gojo: campuran petroleum jelly, minyak mineral, dan alkohol kurang dari 5%.

Selama beberapa dekade berikutnya, Gojo terus menjual produknya sebagai pembersih industri.

Pada tahun 1988, perusahaan menemukan gel tangan Purell, yang terdiri dari 70% etil alkohol sebagai bahan utamanya, bersama dengan propilen glikol.

Purell sekarang menjadi pembersih tangan terlaris di dunia.

Perlu beberapa waktu bagi toko untuk membawa produk yang tidak benar-benar diminta oleh sebagian besar pelanggan sehari-hari. Karena itu, Gojo tidak merilis Purell ke pasar konsumen hingga tahun 1997.

Hand Sanitzier Mulai Direkomendasikan

Pada tahun 2002, CDC mulai merekomendasikan pembersih tangan berbasis alcohol (hand sanitizer) sebagai alternative untuk perawatan kesehatan dan menghilangkan kuman.

Hand sanitizer dianggap sangat praktis dan bisa digunakan dimanapun.

Baca juga: CEGAH COVID, GUNAKAN HAND SANITIZER DENGAN BAIK DAN BENAR

Selain itu, pada tahun 2009, WHO juga ikut mempromosikan penggunakan pembersih tangan berbasis alcohol dikalangan profesional, perawat dan terutama negara-negara miskin dan terbatas sumber dayanya.

Kebutuhan Setiap Orang

Berawal dari kebutuhan beberapa orang yang diklaim oleh beberapa orang mulai dari tahun 1960-an. Pembersih tangan berbasis alcohol atau hand sanitizer ditengah pandemi ini bukan lagi kebutuh sekelompok orang saja.

Hand sanitizer sudah  menjadi kebutuh setiap orang, sebagai alternative terbaik saat tidak tersedia air mengalir dan sabun untuk terbebas dari kuman dan virus.

Penulis: Naomi

PENTINGNYA PERIZINAN RESMI PADA PRODUK HAND SANITIZER

PENTINGNYA PERIZINAN RESMI PADA PRODUK HAND SANITIZER

MORITA Indonesia – Artikel sebelumnya kita telah membahas mengenai bagaimana dan kapan sebaiknya menggunakan hand sanitizer.

Hand sanitizer sendiri diketahui sebagai produk pembersih tangan yang dapat digunakan sebagai desinfektan yang juga mengandung alcohol untuk membersihkan tangan dari virus dan kuman.

Antiseptika ini menjadi produk yang sangat popular di masyarakat sehingga tak sedikit yang memproduksi produk ini sendiri dan dipasarkan secara luas di masyarakat.

Hal ini juga didorong juga dengan banyaknya beredar informasi cara pembuatan hand sanitizer oleh WHO.

Baca juga: CEGAH COVID, GUNAKAN HAND SANITIZER DENGAN BAIK DAN BENAR

Menanggapi hal ini, Badan Perizininan Obat dan Makanan (BPOM) RI mengeluarkan penjelasan izin produk tersebut di Indonesia, diantaranya:

  • Hand sanitizer adalah produk pembersih tangan mengandung desinfektan yang pada umumnya mengandung alkohol untuk membersihkan tangan agar bersih dari virus dan bakteri.
  • Berdasarkan Permenkes RI No. 62 Tahun 2017 Tentang Izin Edar Alat Kesehatan, Alat Kesehatan Diagnostik In Vitro Dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, hand sanitizer termasuk dalam kategori Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT).
  • Produk PKRT termasuk hand sanitizer yang diproduksi, diimpor, dirakit dan/atau dikemas ulang, dan akan diedarkan harus memiliki Izin Edar dari Kementerian Kesehatan.
  • Tidak ada larangan bagi masyarakat memproduksi hand sanitizer untuk digunakan sendiri sesuai dengan pedoman World Health Organization (WHO). (sumber: kompas.com)

Menggunakan produk tersebut yang sudah memiliki perizinan dari Kementerian Kesehatan ini menjadi sangat penting.

Karena perlu diketahui dilansir dari Kompas.com bahwa BPOM Amerika Serikat (FDA) menarik hand sanitizer berbasis methanol yang dijual sejumlah perusahaan di Meksiko.

Paparan methanol ini menyebabkan mual, muntah, sakit kepala, kejang hingga kematian. Sedangkan yang seharusnya digunakan dan banyak digunakan untuk penyanitasi adalah etanol.

Alasan kesehatan ini lah yang menjadikan perizinan Kementerian Kesehatan menjadi sangat penting bagi produk penyanitasi.

Perizinan ini bukan hanya sekedar izin tetapi Kemenkes akan menjamin khasiat dan manfaatnya sebelum diedarkan di masyarakat.

Para pengguna juga harus memperhatikan dalam membeli penyanitasi, pastikan produk tersebut telah memiliki izin.

Apabila, kita ingin mengetahui izin edar dari hand sanitizer maupun produk PKRT yang lain termasuk alat kesehatan yang kita miliki, apakah produk ini resmi terdaftar atau tidak, bisa di cek di http://infoalkes.kemenkes.go.id/.

Penulis: Naomi

CEGAH COVID, GUNAKAN HAND SANITIZER DENGAN BAIK DAN BENAR

CEGAH COVID, GUNAKAN HAND SANITIZER DENGAN BAIK DAN BENAR

MORITA Indonesia – Halo sobat, setelah kemarin kita bicara tentang pentingnya jaga kesehatan diri dirumah, sobat semua sudah menerapkannya dirumah masing-masing kah? Nah, disituasi pandemi, Covid-19 ini memang sebaiknya melakukan banyak pencegahan dan penjagaan diri ya, sobat dibanding harus mengobati.

Terlebih lagi saat ini belum seutuhnya vaksin secara resmi dikeluarkan dan virus Covid-19 masih membayang-bayang aktivitas kita semua.

Artikel kali ini, akan membantu sobat dalam menjaga diri terbebas dari kuman dan virus dengan hand sanitizer.

Hand sanitizer ini sudah tidak asing lagi untuk semua orang, karena manfaatnya yang sangat dibutuhkan dan praktis untuk dibawa kemana saja serta saat beraktivitas diluar rumah.

Penyanitasi ini bisa berupa cairan atau gel yang umumnya digunakan untuk mengurangi patogen pada tangan.

Pemakaian penyanitasi tangan berbasis alkohol lebih disukai daripada mencuci tangan menggunakan sabun dan air pada berbagai situasi di tempat pelayanan kesehatan.

Dilansir dari peninjauan CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat ), ada perbedaan penting antara mencuci tangan dengan sabun dan air dengan menggunakan hand sanitizer.

Sabun dan air berfungsi menghilangkan semua jenis kuman dari tangan, sedangkan sanitizer bekerja dengan cara membunuh kuman tertentu di kulit.

Meskipun pembersih tangan berbahan dasar alkohol dapat dengan cepat mengurangi jumlah kuman dalam banyak situasi, mereka harus digunakan dalam situasi yang tepat.

Sabun dan air lebih efektif daripada pembersih tangan dalam menghilangkan jenis kuman tertentu seperti Norovirus, Cryptosporidium, dan Clostridioides difficile, serta bahan kimia.

Walaupun dianggap lebih praktis, penggunaan hand sanitizer di masa pandemi Covid jangan dianggap sepele, barangkali ada yang hanya dengan asal mengusapkan ditangan.

Perlu diketahui penggunaan hand sanitizer yang baik dan benar sehingga bisa terbebas dari kuman.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan yakni “kapan sebaiknya menggunakan hand sanitizer” dan “bagaimana sebaiknya menggunakan hand sanitizer”.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Hand Sanitizer

  • Sebelum dan sesudah mengunjungi teman atau sanak saudara dirumah sakit atau panti jompo.
  • Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakan hand sanitizer berbahan alcohol yang mengandung setidaknya 60% alkohol dan tetap cuci dengan sabun dan air sesegera mungkin.
  • JANGAN gunakan hand sanitizer jika tangan terlihat kotor atau berminyak (missal setelah berkebun, memancing atau berkembah), tetap maksimalkan cuci tangan dengan air.
  • Baik juga menggunakan hand sanitizer setelah mengeluarkan ingus, batuk dan bersin untuk menghindari penyebaran kuman.

Bagaimana Sebaiknya Menggunakan Hand Sanitizer

  • Gunakan hand sanitizer dengan setidaknya mengandung 60% alcohol.
  • Awasi anak kecil saat menggunakan hand sanitizer untuk mencegah alcohol tertelan.
  • Taruh pembersih yang cukup di tangan Anda untuk menutupi semua permukaan.
  • Gosok kedua tangan Anda hingga terasa kering (ini akan memakan waktu sekitar 20 detik).
  • JANGAN membilas atau menyeka pembersih tangan sebelum kering; hal itu mungkin tidak bekerja dengan baik melawan kuman.

Nah sobat, sudah pahamkan cara supaya penggunaan hand sanitizer ini lebih efektif dan berguna untuk kita? Segera diterapkan dikehidupan masing-masing ya untuk mencegah penyebaran kuman lebih luas lagi. Salam sehat.

Penulis: Naomi

JAGA KESEHATAN DIRI DAN KELUARGA AGAR MERDEKA DARI COVID-19

JAGA KESEHATAN DIRI DAN KELUARGA AGAR MERDEKA DARI COVID-19

MORITA Indonesia – Hallo sobat sehat! Baru saja warga Indonesia merayakan Indonesia Merdeka yang ke 75 tahun.

Terasa sudah 75 tahun Indonesia berjuang untuk tetap mempertahankan kemerdekannya bahkan hingga saat ini negeri kita sedang berjuang “Merdeka Ditengah Pandemi”.

Indonesia telah melewati lika-liku perjalanan yang jatuh bangun, dan sudah seharusnya ditengah pandemi Indonesia tetap harus berjuang dan optimis bahwa Negeri ini bisa melewatinya.

Namun, dalam melawan covid-19 ini tak cukup hanya pemerintah yang memperjuangkannya.

Setiap elemen masyarakat diharapkan ambil andil, bisa dimulai dari yang paling kecil dan penting adalah dari diri sendiri, dari rumah masing-masing.

Baca juga: FAKTA PENTING MENCUCI TANGAN, MARI KETAHUI DAN LAKUKAN

Menjaga kebersihan diri di rumah ini menjadi sangat penting karena rumah menjadi tempat untuk tinggal setelah berpergian melakukan aktivitas.

Kuman yang dibawa dari luar bisa saja menempel dibarang-barang yang ada dirumah. Jika demikian maka kuman akan terus menempel dan menyebar ke anggota keluarga yang lain.

Oleh karena itu dengan menjaga kedisiplinan dan kebersihan diri sendiri di rumah akan bisa mencegah kuman menyebar kemanapun dan setidaknya menjaga kesehatan diri sendiri dan anggota keluarga.

Dilansir dari Kemkes, berikut ini cara untuk jaga diri dan keluarga dari Virus Covid-19 dengan melakukan Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS):

  1. Makan makanan bergizi
  2. Rajin olahraga dan istirahat
  3. Sering cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir
  4. Gunakan masker bila batuk atau tutup mulut dengan lengan atas bagian dalam
  5. Tidak merokok
  6. Minum air putih 8 gelas/hari
  7. Makan makanan yang dimasak sempurna dan jangan makan daging dari hewan yang berpotensi menularkan
  8. Jaga kebersihan lingkungan
  9. Bila demam dan sesak nafas segera ke fasilitas kesehatan
  10. Berdoa.

Gimana sobat? Sudah melakukan cara-cara diatas saat beraktivitas di rumah bersama keluarga?

Menjaga kebersihan diri di rumah bukan hal sepele ya sobat, melainkan sangat penting dilakukan dengan kesadaran setiap anggota keluarga untuk menjaga kesehatan satu sama lain.

Ayo lakukan bersama-sama dan yang belum melakukannya, belum terlambat kok.

Yuk kita sama-sama jaga kesehatan diri dan keluarga dengan disiplin jaga kebersihan di rumah. Salam sehat!

Penulis: Naomi

 

FAKTA PENTING MENCUCI TANGAN MARI KETAHUI DAN LAKUKAN

FAKTA PENTING MENCUCI TANGAN, MARI KETAHUI DAN LAKUKAN

MORITA Indonesia – Mencuci tangan langkah kecil yang sangat penting dan harus dilakukan setiap orang. Cuci tangan juga seharusnya dilakukan dengan benar.

Dilansir dari Kemkes RI, seseorang dapat terinfeksi Covid-19 melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut pada saat bersin atau batuk, droplet tersebut kemudian jatuh pada benda-benda disekitarnya.

Hal ini lah yang menjadikan mencuci tangan sangat penting dilakukan masyarakat saat beraktivitas baik didalam rumah maupun diluar rumah.

Berikut fakta-fakta penting yang harus Anda ketahui dalam mencuci tangan (dilansir dari Unicef Indonesia):

  1. Cara cuci tangan pakai sabun yang tepat. Telah mencuci tangan merupakan hal yang baik namun pastikan Anda melakukannya dengan benar.
    Langkah 1: Basahi kedua tangan secara keseluruhan dengan air bersih yang mengalir.
    Langkah 2: Tuangkan sabun ke seleuruh bagian tangan.
    Langkah 3: Gosok sabun ke telapak tangan, punggung tangan dan sela-sela jari.
    Langkah 4: Bilas kedua tangan.
    Langkah 5: Keringkan dengan handuk bersih atau tisu.
  1. Durasi mencuci tangan. Cuci tangan setidaknya selama 20 – 30 detik dan pastikan setiap sela dijari-jari sudah terkena sabun dan air bersih mengalir. Durasi ini juga dapat diterapkan dalam menggunakan Hand Sanitizer.
  1. Kapan harus mencuci tangan? Anda harus tahu kapan saja harus mencuci tangan dan pastikan Anda benar-benar mencuci tangan di waktu berikut (secara umum):
  • Sebelum dan sesudah makan
  • Setelah menggunakan toilet
  • Setelah membuang sampah
  • Setelah menyentuh hewan
  • Setelah mengganti popok bayi atau membantu anak menggunakan toilet
  • Ketika tangan terlihat kotor, Secara khusus saat:
  • Setelah membuang ingus, batuk atau bersin
  • Setelah berkunjung dari tempat umum, seperti kendaraan umum, pasar atau tempat ibadah
  • Setelah menyentuh barang di luar rumah (termasuk uang)
  • Sebelum, saat, dan sesudah merawat orang sakit
  1. Apakah membutuhkan air hangat dalam mencuci tangan?, Tidak. Air dingin dan air hangat (dan sabun) keduanya efektif dalam membunuh kuman. atau virus.
  1. Apakah perlu mengeringkan tangan dengan handuk/tissue? Ya, karena kuman menyebar lebih mudah melalui kulit yang basah.
  1. Cuci tangan dengan sabun atau dengan cairan pembersih tangan?
    Keduanya baik saat dilakukan dengan benar. Cairan pembersih berbasis alkohol lebih praktis digunakan diluar ruangan namun tidak dapat membunuh semua jenis bakteri dan virus hanya coronavirus.

Nah, melalui ulasan diatas Anda sudah bisa melihat cara mencuci tangan selama ini dan mulai lagi mencuci tangan dengan baik dan benar.

Seperti dihimbau pemerintah untuk melaksanakan protocol kesehatan di New Normal ini, alangkah baiknya dilaksanakan secara benar sehingga Anda tetap terbebas dari kuman, virus dan Covid-19. Salam sehat.

Penulis: Naomi

PANDEMI COVID BELUM USAI, JAGA KESEHATAN BAGIAN YANG TERPENTING

 

(sumber foto liputan6.com)

 

Pandemi Covid menyeruak ke seluruh pelosok dunia. Pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019, Covid-19 secara cepat menyebar ke berbagai negara.

Setiap negara secara bergantian melaporkan kasus pertama bahkan hingga kesekian kalinya. Masih teringat benar, Covid-19 menggegerkan seluruh elemen masyarakat baik di Indonesia maupun di dunia.

Di Indonesia, kasus pertama secara resmi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 3 Maret 2020.

Penyebarannya yang termasuk cepat dan tidak dapat diprediksi semakin meningkatkan kekhawatiran masyarakat pada saat itu.

Empat bulan berselang yakni pada bulan Juni 2020, Pemerintah Indonesia menerapkan status new normal atau kebiasaan baru secara bertahap di beberapa daerah.

Dilansir dari portal website Kemenkes, tatanan kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat inilah yang kemudian disebut sebagai new normal.

Cara yang dilakukan dengan rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak aman dan menghindari kerumunan.

Namun sayang, dengan adanya new normal, masyarakat menganggap pandemi telah usai sehingga banyak yang melanggar protokol  kesehatan.

Dimulai dari tidak menggunakan masker hingga tidak menjaga jarak bahkan membuat kerumunan.

Padahal jika dilihat dari portal berita Covid-19, per tanggal 9 Agustus 2020 kasus positif baru masih terus bertambah menjadi 125.396 kasus.

Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya tetap ingat bahwa pandemi Covid-19 belum usai dan new normal bukan berarti normal.

Namun ada kebiasaan baru (protokol) yang harus diingat kembali dan dilakukan untuk menjaga kesehatan masing-masing, sbb (dilansir dari Kompas.com):

  1. Cuci Tangan

Jaga kebersihan tangan dengan cairan pencuci tangan atau hand sanitizer, jika permukaan tangan tidak terlihat kotor. Gunakan sabun dan air mengalir, jika tangan terlihat kotor. Ikuti tahapan mencuci tangan yang baik, meliputi punggung tangan, bagian dalam, sela-sela jari dan ujung jari.

  1. Hindari Menyentuh Wajah

Tangan dapat membawa kuman dari manapun, baiknnya untuk tetap menghindari menyentuh muka.

  1. Menerapkan Etika Batuk Dan Bersin

Saat batuk atau bersin, tubuh akan mengeluarkan virus dari dalam tubuh. Virus dapat mengenai orang lain, sehingga orang tersebut dapat terinfeksi virus yang berasal dari tubuh kita. Agar terhindar dari Covid-19, terlepas seseorang memiliki virus corona atau tidak, etika batuk dan bersin harus dilakukan. Yakni dengan cara menutup mulut dan hidung menggunakan lengan atas bagian dalam maupun menggunakan kain tisu (selepasnya dibuang langsung ke tempat sampah).

  1. Gunakan Masker

Masker medis hanya dapat digunakan satu kali dan harus langsung diganti. Selalu ingat untuk membuang masker tersebut ke tempat sampah yang tertutup dan cuci tangan setelahnya.

  1. Jaga jarak fisik

Physical distancing atau jaga jarak diimbau agar masyarakat tidak mendatangi kerumunan, meminimalisir kontak fisik dengan orang lain dan tidak mengadakan acara yang mengundang orang banyak.

  1. Isolasi Mandiri

Dilakukan bagi yang merasa tidak sehat, memiliki beberapa gejala sakit, yakni demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan atau sesak napas. Saat merasakan gejala tersebut, maka secara sadar Anda dan sukarela melakukan isolasi mandiri di rumah.

  1. Menjaga kesehatan

Selama tidak berkegiatan di luar rumah, pastikan kesehatan fisik selalu terjaga dengan berjemur sinar matahari pagi selama beberapa menit, mengonsumsi makanan bergizi, dan melakukan olahraga ringan.

Dengan menerapkan setiap protokolnya, diharapkan new normal bisa berjalan dengan baik dan berhasil. Keberhasilan new normal ini sangat membutuhkan kerja sama dari setiap elemen masyarakat Indonesia.